Hydraulic Troubleshooting : Langkah-Langkah Pemecahan Masalah Di Sistem Hidrolik

Hidrolik Troubleshooting


Pada setiap alat berat pada umumnya menggunakan yang namanya hidrolik. Nah kali ini saya akan memberikan tips dan langkah apa saja yang dilakukan saat troubleshooting hidrolik.

Langkah-Langkah :

1. Sight / Penglihatan

Troubleshooting dengan memakai penglihatan adalah dengan melihat tanda-tanda kebocoran, misalnya: Machine atau selang yang basah, oli kotor, level oli yang kurang di tangki. Dari sini kita bisa melihat tanda-tanda adanya kebocoran yang akan mengakibatkan problem yang serius, misalnya pada control valve, pompa, cylinder, motor, dan komponen hidrolik lainya. Bila inspection ini dilakukan secara periodic, maka problem yang serius akan dapat di hindari.

2. Hearing / Pendengaran

Troubleshooting dengan memakai pendengaran adalah mendengarkan suara-suara yang tidak biasa, yang datang dari sistem hidrolik. Aliran oli yang tiba-tiba atau spike, yaitu pressure yang sangat tinggi. Getaran-getaran pada hidrolik komponen yang berlebihan dsb. Oli yang terhubung ke tangki pada saat tekanan tinggi, maka disini akan timbul panas yang cepat dan bisa merusak kualitas oli itu sendiri.

3. Touch / Sentuhan

Troubleshooting dengan memakai sentuhan disini agak berbahaya dan harus hati-hati. Getaran dari selang yang tidak seperti biasanya, juga bisa mengindikasikan adanya masalah di sistem hidrolik.

4. Smell / Penciuman

Bila oli hidrolik tercampur udara atau di pompa hidrolik terjadi kavitasi, maka akan terjadi gelembung-gelembung udara di oli. Pada saat tekanan tinggi dan terjadi kevakuman, maka akan timbul temperatur yang sangat tinggi. Hal ini bisa tercium bau oli terbakar di dalam tangki. Kalau sudah begini kondisinya dan unit terus beroperasi, maka komponen hidrolik tidak akan tahan lama dan menjadi cepay rusak.

Untuk Troubleshooting hidrolik, pada prinsipnya adalah bisa dibagi menjadi: 
  1. Komponen Hidrolik
  2. Sistem Hidrolik
  3. Elekrikal / Control Sistem

1. Komponen Hidrolik

Secara garis besar bahwa komponen hidrolik terdiri dari :
  • Pompa dan pengontrolnya
  • Control Valve dan pengontrolnya
  • Actuator

a. Pompa & Pengontrolnya

Pada umumnya kerusakan pada pompa adalah tidak bisa menahan aliran balik bila ada tekanan (atau dengan kata lain bagian dari pompa itu sudah ada yang aus). Hal ini akan menurunkan displacement dari pompa itu sendiri. Bila displacement pompa sudah turun dibawah spesifikasinya, maka kecepatan dari actuator (cyinder/motor). Penyebab berubahnya displacement pada pompa yang lain adalah pada sistem pengontrolnya. Bila sistem pengontrolnya ( regulator/solenoid ) ada masalah, maka juga akan mengakibatkan berubahnya displacement pada pompa.

b. Control Valve & Pengontrolnya

Seperti kita ketahui bahwa fungsi control valve adalah untuk mengontrol tekanan, jumlah aliran dan arah aliran. Untuk lebih jelasnya baca juga : dasar sistem hidrolik.
Jadi bila salah satu fungsi tidak normal, maka actuator bisa tidak kuat, tidak cepat dan arahnya tidak sesuai yang di kehendaki. Sedangkan untuk pengontrolnya misalnya pada pilot controlnya sebagai penggerak spool valve. Bila pilot controlnya bermasalah dari sumbernya ( pilot pump ) maka seluruh actuator akan bermasalah. Tapi bila hanya salah satu actuator saja yang bermasalah, berarti sumber permasalannya bukan dari sumbernya, Kita hanya memeriksa sebatas sistem operasi dari actuator yang bermasalah.

c. Actuator

Actuator berfungsi untuk merubah tenaga hidrolik menjadi tenaga mekanik. Actuator akan menghasilkan speed & power. Bila speed atau power bermasalah semua, berarti permasalahannya dari sumber. Bila sebagian, maka hanya sistem actuator tersebut.
Pada actuator, bila masalahnya adalah speed yang kurang, maka penyebabnya jumlah oli yang mengalir ke actuator kurang. Sedangkan bila gaya/ tenaga yang kurang kuat, maka sumber utamanya adalah dari setting pressure yang kurang atau ada kebocoran di dalam actuator itu sendiri.

2. Sistem Hidrolik

Pada control valve, ada beberapa sistem, diantaranya open center & closed center. Berdasarkan hal ini kita jangan sampai salah menangani problem. Hal ini dikarenakan setiap sistem mempunyai keuntungan dan kerugian. Lebih spesifik lagi misalnya problem saat operasi kombinasi dan saat single operasi ternya normal. Begitu juga tipe pompa yang di pakainya.

3. Elektrikal / Control Sistem

Sistem operasi hidrolik sekarang sudah di kombinasikan dengan elektrik yang biasa kita sebut dengan istilah mechatronic. Jadi ada kalanya output hidrolik yang bermasalah, tetapi sistem pengontrolannya memakai elektrik, misalnya berupa solenoid-solenoid valve. Jadi dalam melakukan troubleshooting hidrolik, kita tidak bisa mengabaikan masalah elektrik. 
Masalah sistem pengontrolannya juga berkembang sangat pesat, misalnya sekarang banyak yang memakai controller sebagai pengatur sistem hidrolik. Ini lebih komplek karena di sini ada proses input yaitu sensor / switch, lalu di proses oleh controller dan output ke actuator. Tidak jarang pabrik alat berat sekarang mengeluarkan software untuk troubleshooting. 

Bisa kita simpulkan bahwa untuk troubleshooting, hal yang paling penting untuk kita adalah mengetahui dan memahami sistem.

Comments